Empat puluh hari setelah kepergian Andi Mohammad Safwan, saya mencoba menelusuri kembali serpihan kenangan tentang seorang guru yang menghabiskan hidupnya untuk ilmu dan anak-anak muda. Sebagian besar kisah ini bertumpu pada ingatan lebih dari satu dekade silam. Karena itu, saya memohon maaf bila ada nama, waktu, atau peristiwa yang tidak sepenuhnya tepat.
***
Penulis Orang Miskin Dilarang Sakit, Eko Prasetyo, tiba di Gang Pandega Wreksa, Dusun Manggung, Sleman, Yogyakarta. Ia datang tepat waktu sesuai jadwal panitia. Jumlah hadirin yang menantinya hampir memenuhi tempat acara.
Siang itu, 14 November 2013, Mas Eko – demikian ia akrab disapa – datang memenuhi undangan sebagai pembicara dalam acara kajian bertajuk “Gerakan Sosial dan Teologi Pembebasan” di sebuah perpustakaan dalam gang tersebut.
Agenda ini digelar dalam rangka mengenang perjuangan cucu Rasulullah saw, Sayyidina Husain. Oleh karena itu, panitia menggelarnya pada 10 Muharram atau yang dikenal Hari Asyura. Ketika Mas Eko baru saja memulai pidatonya, seorang teman menepuk pundak saya dan berbisik, “Ada polisi di luar.”
Kami berdua segera keluar dari ruangan dan menemui aparat berpakaian sipil itu. Polisi meminta acara segera diakhiri dengan alasan sejumlah ormas sedang menggerakkan massanya dari Kota Yogyakarta menuju lokasi acara.
****
Pandega Wreksa 2011
Akademisi dan aktivis di Yogyakarta seperti Mas Eko mengenal tempat sederhana ini sebagai Perpustakaan RausyanFikr Institute. Sebagian orang menyebutnya Yayasan RausyanFikr. Jaraknya sekitar 1 kilometer dari utara Universitas Gadjah Mada.
Seseorang perlu melewati satu gang lebih kecil lagi setelah memasuki Pandega Wreksa untuk menemukan perpustakaan ini. Bangunannya beratap genteng tanah liat yang tersusun rapi di atas rangka kayu. Seperti umumnya rumah orang Jawa tempo dulu.
Dengan luas kurang lebih seperti lapangan bulutangkis, perpustakaan ini mengoleksi sekitar empat ribu eksemplar buku yang bertemakan seputar filsafat Islam dan tasawuf. Ada juga ratusan karya ilmiah seperti jurnal, skripsi, tesis dan disertasi terkait tema di atas.
Walau tak sebesar perpustakaan pada umumnya, RausyanFikr menjadi tempat membaca favorit bagi peminat atau pengkaji tema-tema di atas. Profesor dari Arizona State University sekaligus dosen UGM, Mark Woodward, juga pernah terlihat berdiri seorang diri di salah satu sudut ruang tersebut sembari sibuk memperhatikan buku demi buku dalam suatu rak.
Jika sore hari, RausyanFikr sering kali menggelar kajian dan diskusi di pekarangan depan perpustakaan. Mereka yang datang menjadi pemantik diskusi biasanya orang yang memiliki perhatian terhadap salah satu tema buku-buku di atas. Di antara mereka yang pernah hadir sebagai narasumber adalah Dosen Sosiologi UGM, Muhammad Supraja, dan Dosen Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga, Waryono Abdul Ghofur (Kini menjabat Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama). Keduanya penggemar pemikiran Murtadha Muthahhari, cendekiawan muslim dari Iran.
“Saya tak pernah menemukan buku yang membahas Keadilan Ilahi sebagus karya Muthahhari,” kata Waryono.
Meski tema kajiannya serius, format diskusinya santai. Peserta duduk lesehan di pekarangan perpustakaan, ditemani teh, kopi, dan gorengan. Tak jarang peserta melebihi kapasitas tempat hingga harus berdiri mengelilingi forum. Karena sering dipakai majelis ilmu, orang-orang menyebut tempat itu: Taman Hikmah.
Taman Hikmah ini diapit oleh dua bangunan. Selain perpustakaan di sisi selatan, ada juga bangunan di sebelah utara. Luasnya kira-kira tiga kali lipat dari perpustakaan. Di rumah ini tinggal Pengasuh RausyanFikr, AM Safwan dan keluarganya. Hanya saja ia tidak sepenuhnya menggunakan bangunan itu sebagai kediamannya. Hampir separuhnya ia gunakan sebagai kamar-kamar mahasiswa yang belajar sekaligus menjadi pengurus RausyanFikr. Bukan hanya itu, ia juga berbagi dapur – yang berada di teras rumah – bersama mahasiswa. Satu kompor dipakai bersama.
Oleh karena itu, Taman Hikmah hampir tak pernah sepi dari hilir mudiknya mahasiswa, pengunjung perpustakaan, peminat kajian RausyanFikr, sang pengasuh sendiri beserta istrinya, dan empat anaknya yang masih kecil kala itu: Hari, Zahir, Nargis, dan Rey.
Dari MPM ke RausyanFikr
Lingkungan intelektual di atas mulai terbentuk sejak sekitar tahun 1995. Dimulai dari sekelompok mahasiswa yang memiliki minat dan komitmen untuk mengkaji dan mendiskusikan berbagai isu sosial dan politik dengan pendekatan pemikir muslim dari Republik Islam Iran seperti Husain Thaba’tabai, Murtadha Muthahhari, Ali Syariati. Karya-karya mereka populer di Tanah Air setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pasca-Revolusi Islam Iran 1979. Nama “RausyanFikr” – yang berarti “pemikir tercerahkan” – diambil dari bahasa Persia dan mulai dikenal di Indonesia lewat buku-buku Syariati.
Pada era 1980-an di Makassar, buku-buku terjemahan dari para pemikir Iran tersebut telah menjadi konsumsi diskusi di kalangan aktivis Mahasiswa Pecinta Mushalla (MPM) Universitas Hasanuddin (Unhas). Salah satu aktivis MPM, Muhammad Rusli Malik, rutin mengisi kajian di SMA Negeri 1 Makassar. Sekolah itu dikenal sebagai salah satu SMA terbaik di kota tersebut saat itu. Salah seorang pelajar yang tertarik pada kajian tersebut adalah Andi Mohammad Safwan. Dalam perkembangan selanjutnya, ketika mendapatkan informasi MPM menggelar training di Unhas, AM Safwan mendaftar sebagai salah satu peserta. Setelah itu ia aktif menggelar training di sekolahnya dengan mengundang aktivis-aktivis MPM sebagai pemateri. Seusai tamat dari SMA, anak kelahiran Bone 5 Mei 1973 ini sempat kuliah Fakultas Teknik di Unhas selama setahun sebelum hijrah ke Ilmu Komunikasi UGM Yogyakarta.
Di Kota Pelajar inilah ia ikut kelompok kajian RausyanFikr. Pada masa itu, anggota kelompok ini 15 sampai 20 orang yang datang dari berbagai kampus. Salah satu di antaranya mahasiswi UGM, Andayani, yang kemudian menjadi pendamping hidup AM Safwan.
Selain rutin mengadakan kajian internal, mereka juga kerap mengundang cendekiawan dan pemikir sebagai pembicara diskusi. Karena belum memiliki tempat tetap, kegiatan-kegiatan itu berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lain, atau dari satu kamar kos anggota ke kamar kos lainnya secara bergantian. Begitu pula ketika mereka berkumpul untuk membaca doa Kumail setiap malam Jumat.
Jika RausyanFikr memiliki tempat yang relatif tetap untuk berkumpul, tentu mereka tidak kerepotan untuk berpindah-pindah. Apalagi di zaman itu belum ada handphone. Masalah ini kemudian dipecahkan oleh AM Safwan yang sedang menyewa satu petak kamar di Pandega Wreksa. Ketika mengetahui penghuni kamar sebelahnya tidak akan memperpanjang sewanya bulan depan, ia segera mengamankan kamar untuk temannya sesama anggota RausyanFikr. Demikian seterusnya sampai komunitas ini menyewa banyak petak kamar di sana. Sejak itu, mereka memiliki tempat sekretariat dan ruang untuk menyimpan koleksi buku yang nantinya berkembang menjadi Perpustakaan RausyanFikr.
Sejak sekitar 1995 atau 1996, kelompok diskusi itu resmi berpindah ke Gang Pandega Wreksa. Di tempat inilah AM Safwan dipercaya oleh rekan-rekannya untuk memimpin RausyanFikr. Selain dikenal cerdas, ia juga dihormati karena dedikasi dan keteguhannya dalam menjaga komitmen perjuangan.
Namun, ada kegelisahan yang diam-diam mengemuka di antara mereka. Bagaimanapun, anggota RausyanFikr hanyalah mahasiswa perantau yang suatu saat akan meninggalkan Yogyakarta. Termasuk AM Safwan. Jika generasi terus berganti, siapa yang dapat menjamin RausyanFikr tetap berjalan di garis perjuangannya dalam sepuluh atau dua puluh tahun mendatang? Pertanyaan semacam itu kerap menjadi bahan perbincangan serius di kalangan mereka.
Kerisauan itu perlahan mereda ketika AM Safwan menyatakan niatnya untuk menetap di Yogyakarta. Ia memilih mengabdikan hidupnya untuk umat melalui RausyanFikr. Sejak saat itu, teman-temannya menaruh kepercayaan kepadanya untuk menjaga ruh perjuangan komunitas tersebut: istiqamah dalam gerakan intelektual serta tetap independen, tanpa berafiliasi kepada partai politik maupun organisasi massa mana pun.
Prinsip independensi itu menjadi hal yang sangat dijaga sejak RausyanFikr berdiri pada awal 1990-an. Pada masa itu, isu ketegangan identitas—mulai dari persoalan suku, pribumi dan nonpribumi, habib dan non-habib—sedang menghangat di tengah masyarakat. RausyanFikr, yang anggotanya berasal dari beragam latar belakang suku, keluarga, dan golongan, berusaha menjaga solidaritas internal serta tidak larut dalam arus konflik identitas di luar mereka.
Pada tahun 1996, AM Safwan menikah dengan Andayani. Setelah menikah, keduanya sempat dua kali pindah rumah kontrakan sebelum akhirnya balik lagi ke Pandega Wreksa pada 1999.
Pada masa ini, mereka mulai menerbitkan buletin. Pemikiran-pemikiran yang didiskusikan, mereka tuangkan dalam tulisan dan disebarkan ke kampus. Salah satu arsip artikel yang pernah saya baca pada masa itu yaitu tentang gerakan keilmuan Imam Muhammad Albaqir yang ditulis oleh mahasiswa hukum UGM angkatan 1997.
Seiring berjalannya waktu, generasi demi generasi datang dan pergi silih berganti. Namun AM Safwan bersama istrinya tetap tinggal di sana. Dari masa ke masa, ia membina kader-kader yang kemudian memimpin agenda rutin RausyanFikr. Meski kepemimpinan operasional terus berganti, arah dan ruh perjuangan RausyanFikr tetap terjaga di tangannya.
Sejak berdiri pada awal 1990-an, RausyanFikr rutin mengundang pengajar filsafat Islam. Di antaranya Sayid Segaf Assegaf dari Solo yang sempat menetap di Yogyakarta dan mengajar secara rutin selama sekitar setahun. Setelah komunitas itu berpindah ke Pandega Wreksa, mereka juga mengundang Muhammad Rusli Malik—mentor AM Safwan di MPM Unhas—untuk datang secara berkala dari Jakarta guna mengajar di Yogyakarta. Selain mereka, sejumlah pengajar filsafat Islam lainnya juga pernah datang bergantian mengisi kajian di sana.
Namun, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, tidak mungkin bagi mereka untuk terus-menerus mendatangkan pengajar dari luar kota. Sementara RausyanFikr perlu terus bergerak dan berkembang dengan aktivitas keilmuannya. Karena itu, AM Safwan mulai membina trainer-trainer baru dari kalangan mahasiswa yang rutin mengikuti kajian di RausyanFikr.
“Dia termasuk orang yang suka bekerja sendiri,” kata Rusli Malik. “Dalam pengertian, untuk berbuat, tidak perlu menunggu orang lain. Apa yang bisa dia perbuat, langsung dilakukan sendiri.”
Konsep tentang pelatihan kader pengajar ia pernah dapatkan juga di Bogor, Jawa Barat. Salah satu pengajarnya adalah Sayyid Abdullah Som. Dengan kader-kader yang dapat membantunya mengajar, dia membuat training-training yang terinspirasi dari program MPM. Ia membuat, misalnya, paket Pencerahan Pemikiran Islam (PPI) selama tiga atau dua hari. Materinya tentang dasar-dasar filsafat Islam. Pada tingkat lanjut, ia membuat paket Wisata Epistemologi selama sebulan. Demikian ia membuat berbagai program termasuk Pondok Pesantren Mahasiswa Muthahhari sekitar tahun 2010.
Ketika filsuf dari Iran, Syekh Taqi Misbah Yazdi, berkunjung ke Yogyakarta. Ia berpesan kepada komunitas RausyanFikr bahwa keterbatasan itu bukan hambatan. Meski belum memiliki pengajar tetap berlatar filsafat Islam maupun kemampuan bahasa Arab dan Persia, para mahasiswa tetap dapat membaca buku-buku terjemahan, mengkajinya, lalu mendiskusikannya bersama.
Ketika saya datang pada tahun 2010, paket kajian dua atau tiga hari masih rutin berlangsung. Inilah yang membuat selalu ada wajah-wajah baru pada setiap pekan di Pandega Wreksa. Sebagian dari mereka yang pernah mengikuti kelas-kelas tersebut akan kembali ke RausyanFikr dengan membawa teman. Paling sering saya temukan mereka yang membawa teman se-organisasi dan se-asrama.
Peserta datang dari berbagai daerah, bahkan sebagian kembali lagi dengan mengajak teman, pasangan, atau keluarganya. Dari mulut ke mulut, forum-forum itu terus menemukan peserta baru.
Padahal, program-program itu tidak menawarkan gelar atau jaminan apa pun. Namun kelas tersebut tetap dipenuhi anak-anak muda yang datang karena kebutuhan intelektual dan spiritual mereka sendiri. Dari pertemuan-pertemuan sederhana yang dipersatukan oleh kecintaan pada ilmu itulah ekosistem RausyanFikr tumbuh.
AM Safwan pernah mengungkapkan bahwa salah satu hal yang membuat ia bahagia ketika ia dari balik jendela rumahnya melihat mahasiswa lalu lalang di gang atau di Taman Hikmah sambil membawa buku. Ada yang duduk menyendiri di bawah pohon, di salah satu sudut gang, membaca buku Keadilan Ilahi karya Muthahari yang ditemani sebatang rokok dan secangkir kopi.
Salah satu dari mereka pernah mengatakan, pemikiran yang dikaji di RausyanFikr belum ia temukan dalam ruang diskusi di kampusnya. Setelah mengikuti kajian di sana, dia mulai menemukan jawaban atas keresahan-keresahan intelektualnya yang selama ini ia cari dari perjalanan aktivismenya yang sempat melintasi beragam spektrum pemikiran.
Mochtar Abbas, tokoh pemberdayaan perempuan dengan konsep Grameen Bank di Indonesia, juga kerap datang ke Pandega Wreksa. Pensiunan kepala desa Pabelan-Muntulan itu seperti menemukan ruang untuk membicarakan kegelisahan tentang ketuhanan, sains, spiritualitas, hingga takdir. Di tengah kesibukannya baik di Jakarta maupun di Yogyakarta, ia biasanya mengirim pesan singkat ke saya saat ingin berkunjung ke sana, “Apakah Pak Safwan ada di Pandega?”
Membumikan Filsafat
Salah satu hal yang paling disukai peserta kajian dari AM Safwan adalah cara ia menyampaikan filsafat. Ia mampu menjelaskan konsep-konsep yang abstrak dan terkesan “melangit” dengan berangkat dari pengalaman sehari-hari mahasiswa. Sebagai aktivis yang sejak masa SMA akrab dengan dunia mahasiswa dan anak muda, ia memahami betul persoalan-persoalan yang mereka hadapi—mulai dari kegelisahan intelektual hingga urusan patah hati.
Karena itu, peserta kajian merasa dekat dengan apa yang ia sampaikan. Tak jarang suasana forum pecah oleh tawa ketika mereka merasa sedang bercermin pada diri sendiri. Barangkali inilah salah satu yang membuat mahasiswa betah duduk berjam-jam bersama AM Safwan, saat mengkaji halaman demi halaman buku filsafat.
Selain itu, ia tekun mengikuti perkembangan situasi ekonomi, sosial dan politik tanah air dan geopolitik. Semua informasi itu memperkaya khazanahnya dalam membumikan konsep-konsep yang terlanjur distigma sebagai wacana “menara gading”.
Komunitas pembelajar filsafat Islam ini menarik perhatian Koordinator ‘Christian-Muslim Relation’ di Jesuit Conference of Asia-Pacific, Romo Heru Prakosa. Setelah menjalin komunikasi dengan Pengasuh RausyanFikr itu, Romo Heru mengirimkan sejumlah murid-muridnya, calon imam Katolik di seminari, untuk “nyantri” sekitar 5 hari di sana. Mereka menginap perpustakaan, makan bersama komunitas kajian, mengikuti kelas rutin, diskusi lintas iman, hingga berlanjut nongkrong bareng di warung burjo yang tak jauh dari situ.
Kolaborasi ini berlanjut dan mengundang banyak orang datang ke RausyanFikr ketika AM Safwan bersama Romo Heru duduk bareng sebagai pembicara di sebuah majelis tentang spiritualitas dua wanita suci: Bunda Maria dan Sayidah Fatimah.
Entah bagaimana nama AM Safwan sampai ke telinga Pimpinan Islamic College di Jakarta, Sayid Ahmad Fazeli. Alhasil, Ahmad Fazeli mempercayakan RausyanFikr untuk menyelenggarakan seminar internasional “Tradisi Doa dan Munajat dalam Agama-agama” dalam rangka merefleksikan kitab Sahifah Sajjadiyah. Seminar yang berlangsung di UGM itu membuat hubungan penyelenggara dengan akademisi dari berbagai kampus semakin bagus. Jalinan ini dibuktikan dengan seringnya RausyanFikr berkolaborasi dengan dengan kampus, khususnya UIN Sunan Kalijaga.
Di titik inilah AM Safwan terlihat tak hanya dapat mentransformasikan konsep-konsep kompleks dalam buku-buku filsafat kepada anak-anak muda, tapi juga dapat mengorganisir suatu tim kerja. Ia rutin menggelar rapat di ruang kerjanya bersama tim kecil. Tim inilah yang membuat seluruh kegiatan di dalam dan luar RausyanFikr dapat berlangsung sesuai agenda. Jika acara harus melibatkan banyak personel, tim kecil ini tinggal menyampaikan undangan rapat kepanitiaan kepada “anak-anak kajian” yang bertebaran di berbagai kampus.
Di tengah kesibukannya di Yogyakarta, ia masih menyempatkan untuk ke luar kota, bahkan keluar pulau Jawa, untuk memenuhi undangan sebagai pemateri di berbagai forum. Jika berhalangan memenuhi undangan itu, ia mengutus kadernya – dari sejumlah anak kajian paling senior – untuk menggantikannya.
Dalam beberapa perjalanan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, saya melihat betapa akrabnya AM Safwan dengan jalan-jalan kecil sekaligus jejaring komunitas yang ia bangun selama bertahun-tahun.
Suatu ketika, saat kami melintasi jalan berliku di dataran tinggi Kopeng-Salatiga, ia memberi isyarat untuk singgah sejenak. Ia kemudian menunjuk sebuah jalan kecil menuju dusun di lereng Gunung Merbabu. Di sana berdiri sebuah yayasan—kalau saya tidak keliru mengingat namanya, Yayasan Jausyan. Bangunannya sederhana, dikelilingi hamparan kebun sayur yang membentang di lereng Merbabu. Para pengurus yayasan tampak begitu akrab menyambut AM Safwan. Dari perjalanan-perjalanan semacam itu, saya menyaksikan sendiri betapa luas jejaring pergaulan yang telah ia bangun.
Meski sering memenuhi undangan ke luar kota, fokus utamanya tetap mahasiswa dan kampus. Karena itu, ia lebih sering menerima undangan forum mahasiswa dibanding majelis umum. Guru saya yang lainnya di Yogyakarta, Sayid Muhammad Toha, mendukung pilihan AM Safwan. Menurutnya, tidak banyak orang yang memiliki akses untuk mengenalkan pandangan Muthahhari ke lingkungan kampus. “Apa yang dilakukan Ustadz Safwan sudah tepat,” ujarnya. Ia mengatakan itu kepada saya usai keduanya bertemu dekat Semarang.
Seorang kawan AM Safwan pernah bercerita kepada saya tentang seseorang di sebuah kota yang membangun asrama mahasiswa dengan harapan dapat meniru model RausyanFikr. Ia ingin menghadirkan lingkungan intelektual yang hidup, kajian rutin, kaderisasi yang berjalan, serta hubungan yang baik dengan dunia kampus. Bangunan asrama lengkap dengan fasilitasnya telah disiapkan, bahkan biaya operasional pengurus pun ditanggung setiap bulan. Namun sayangnya, upaya itu layu sebelum berkembang.
Barangkali sebagian orang hanya melihat apa yang berhasil dibangun AM Safwan, tanpa menyadari panjangnya proses yang ia jalani selama bertahun-tahun. Ia merintis semuanya lewat komunitas kecil dan forum-forum diskusi yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia menjalaninya dengan tekun, terlepas ada atau tidaknya dana, gedung, maupun sponsor.
Beberapa kali ia menerima undangan sebagai pemateri dan ketika sampai di lokasi acara yang cukup jauh dari RausyanFikr, peserta yang hadir hanya segelitir orang. Namun ia tak pernah kecewa dengan jumlah. Dia menempuh jalan sunyi, panjang dan tak mudah ini dengan tabah. Suatu masa ia pernah sibuk memenuhi undangan itu dengan motor bebeknya, Honda Revo, untuk Yogyakarta dan sekitarnya serta meminjam mobil untuk undangan perjalanan jauh.
Syukurnya, ada saja yang mendukungnya. Teman-temannya di Yogyakarta, termasuk habaib, khususnya dari kalangan pengusaha, memberikan dukungan materi dan nonmateri. Demikian juga dari berbagai kota dan daerah di luar Yogyakarta. Mereka ibarat tangan-tangan sunyi yang turut menjaga nyala RausyanFikr.
Ia selalu menjaga hubungan baik dengan para pendukung RausyanFikr di Yogyakarta. Termasuk mereka yang selama ini membantu tanpa banyak tampil di depan. Mereka sudah sangat senang dilibatkan, khususnya setiap kali menjamu ulama dari Republik Islam Iran yang datang ke Kota Pelajar ini.
Selain kawan-kawannya tersebut, saya melihat, istri dan anak-anaknya merupakan salah satu sumber kekuatan yang luar biasa baginya. Saya sulit membayangkan AM Safwan tanpa dukungan dari istri dan anak-anaknya. Mereka terdidik tabah menemani sang suami dan ayah yang berjuang menempuh jalan yang tak ada timbal balik materinya, bahkan berisiko.
Menjaga Nyala di Tengah Ancaman
Saat RausyanFikr mengadakan kajian “Gerakan Sosial dan Teologi Pembebasan” pada 10 Muharram di perpustakaan, aparat polisi meminta acara untuk dihentikan. Alasannya sejumlah ormas mengancam membubarkan acara dalam gang tersebut. Setelah diskusi panjang, kami pun mengalah dan meminta hadirin pulang lebih cepat.
Risiko terburuk mempertahankan acara tersebut tak bisa saya bayangkan. Sebagian hadirin merupakan orang tua, perempuan dan anak-anak. Dan yang paling berisiko keamanannya adalah AM Safwan, keluarganya, beserta harta bendanya.
Ancaman tidak berhenti pada hari itu. Personel polisi bertambah banyak berjaga-jaga di sekitar Pandega Wreksa keesokan harinya. Tak ada lagi orang di kompleks itu selain Pengasuh RausyanFikr dan murid-muridnya. Istri dan anak-anaknya telah mengungsi di tempat lain. Dari sekian harta yang ada di dalam, ia memilih untuk mengevakuasi ribuan eksemplar buku di perpustakaan. Harta yang ia kumpulkan dan jaga sejak 1995. Teman-teman bergotong royong mengosongkan rak, memasukkan ke dalam kardus-kardus dan membawanya ke tempat yang lebih aman.
Aktivitas kajian tetap dijalankan di tempat pengungsian. Selama di sana, kajian dilakukan secara internal namun tetap mengundang narasumber dari luar. Di antara yang pernah datang sebagai pemantik diskusi di pengungsian adalah Zainal Arifin Mochtar (Dosen Hukum Tata Negara UGM) dan Dina Sulaiman (Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran).
***
Perpisahan yang Telah Lama Dipersiapkan
Setelah tiga tahun tidak pernah ke Yogyakarta, saya kembali berkunjung ke Pandega Wreksa. Saya terkejut karena AM Safwan dan keluarganya telah pindah. Pemilik bangunan menjual semua ke sebuah perusahaan. Sesaat setelah saya menyadari pekarangan yang dulunya dikenal Taman Hikmah itu telah menjadi milik orang lain, dengan berat hati saya beranjak pergi dari situ. Dulu, AM Safwan pernah mengungkapkan ingin membeli bangunan tersebut, tempat yang menjadi saksi bisu mondar-mandirnya anak-anak muda pecinta ilmu.
Setelah pindah dari Yogyakarta, saya memang sangat jarang ke Pandega Wreksa. Saya hanya mengikuti perkembangannya ketika bertemu AM Safwan dan alumni. Dari pertemuan tersebut saya mengetahui lahirnya Jaringan Aktivis Filsafat Islam (Jakfi) yang saat ini memiliki 21 simpul di Indonesia.
Perhatiannya juga mulai banyak tertuju pada pembinaan keluarga muda di kalangan murid-muridnya melalui program Rumah Cinta Fatimah. Dengan demikian, keluarga-keluarga yang ia dampingi ini diharapkan kelak dapat memberikan dampak di lingkungannya masing-masing. Ia memahami bahwa perubahan semacam itu membutuhkan waktu panjang. Namun keyakinannya pada jalan yang ia tempuh tak pernah surut.
Pada pertengahan tahun 2025, dia ke Jakarta dalam rangka menghadiri undangan Pesantren Khatamunnabiyin yang diasuh oleh sahabatnya, Akbar Saleh. Saya datang menjemputnya di Stasiun Jatinegara dan membawanya bertemu dengan kawan lamanya dan berbincang panjang.
Meski tampak tak seenergik sebelumnya, cara dia berbicara masih menunjukkan semangat yang sama. Tak surut oleh waktu pada apa yang telah ia pegang sebagai komitmen sejak pertama kali bersedia memimpin RausyanFikr. Dalam pertemuan tersebut, saya mendengar ungkapan yang kedua kalinya keluar dari lisannya, “Saya pun ingin saya mendapatkan cahaya di kuburan.” Pertama kali saya mendengarnya ketika saya berkunjung ke Yogyakarta beberapa bulan sebelumnya.
Sekitar 15 tahun lalu ia juga pernah mengatakan, “Satu-satunya kepastian yang kita akan hadapi di dunia ini adalah kematian, lalu mengapa kita justru tidak mempersiapkannya dengan sebaik mungkin? Sementara untuk semua hal yang belum pasti dalam hidup ini, kita mati-matian mempersiapkannya.”
Jika ia hanya berceramah di atas mimbar, mungkin kalimat-kalimat di atas sudah lama terlupakan. Tapi AM Safwan tidak seperti itu. Ia tidak hanya berbicara tentang kesederhanaan dan pengabdian, tetapi menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Itu tampak dari pakaiannya, rumahnya, akhlaknya, visi perjuangannya, kecintaannya pada ilmu, kepada para ulama, Rasulullah saw, Ahlulbaitnya dan perhatiannya pada orang-orang yang terpinggirkan. “Seumur hidup saya tidak pernah melihat orang seperti dia yang sejak bangun tidurnya memikirkan umat, demikian juga sebelum tidur,” kata istrinya.
Menjelang peringatan 40 hari syahidnya Pemimpin Spiritual, Sayid Imam Ali Khamenei, ia meminta murid-muridnya untuk turut memperingatinya. Ia begitu mengagumi sosok satu ini. Selama saya tinggal di RausyanFikr, foto Sayid Khamenei yang sedang membaca Alquran selalu terpajang di ruang kerjanya. Ia sangat mengagumi adab Imam dalam memuliakan Alquran, salah satunya dengan menggunakan kain pelapis putih saat memegang mushaf.
Pada Kamis siang, 16 April 2026, AM Safwan dikabarkan mengalami serangan jantung dan segera dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani operasi. Menjelang petang, pesan-pesan berisi doa untuk sang guru itu bersahut-sahutan di grup-grup WhatsApp. Namun pada pukul 19.01 WIB, jiwa yang sejak lama mempersiapkan dirinya untuk perjumpaan dengan Tuhan itu kembali ke haribaan Ilahi. Malam itu sejatinya ia dijadwalkan hadir dalam peringatan 40 hari Imam Khamenei yang turut ia persiapkan. Akan tetapi, ia justru menyusulnya. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun
Allah memanggilnya pulang setelah lebih dari separuh usianya dihabiskan untuk belajar mengenali Sang Pencipta dan mengenalkannya kepada generasi yang lebih muda. Taman Hikmah menjadi saksi bagaimana banyak anak muda menemukan kembali jalan spiritual mereka. Di tempat itu, tak sedikit putra-putri umat Muhammad yang mulai belajar bersalawat, mengenal keluarga Nabi, dan meneteskan air mata pada malam-malam Lailatul Qadar ketika sang guru menuntun mereka menyebut nama Allah dan nama-nama para manusia suci.[]
اللَّهُمَّ اجْعَلْ قَبْرَهُ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ
Edy Syarif
_____________________________________
Artikel ini disusun berdasarkan pengalaman pribadi penulis, wawancara dengan Ibu Andayani dan Ustaz Rusli Malik, serta berbagai kisah tentang RausyanFikr yang disampaikan Bang Hertasning Ichlas dalam sejumlah pertemuan di kediamannya. Penulis juga berterima kasih kepada Bang Ucen yang menyempatkan berbagi cerita di pemakaman setelah almarhum dimakamkan. Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada Bang Salman Nasution atas berbagai informasi yang diberikan, serta kepada orang-orang yang telah membantu namun tidak berkenan disebutkan namanya.

Leave a Reply