Menanti Naik Haji di Sudut Sekolah

Jarum jam menunjuk pukul sebelas siang. Sinar matahari mulai menyengat ubun-ubun para pejalan kaki di Gang Bhineka, Jatinegara, Jakarta Timur, 21 November 2019.

Hanya butuh 200-an langkah orang dewasa untuk mencapai ujung gang tersebut. Semakin dalam seseorang memasuki gang, makin jauh ia dari kebisingan kota, dan makin jelas ia mendengar sorak-sorai anak-anak dari balik tembok sekolah.

Di penghujung Gang Bhineka, seorang wanita berusia 69 tahun berteduh di bawah tenda payung warna-warni. Wanita berkerudung itu duduk di balik sebuah meja rendah dengan sederet mi instan kemasan di atasnya. Di sisi kanan kursi jongkoknya, sebuah panci berisi air yang ditempatkan di atas kompor gas.

“Mau mi yang pedas atau tidak?” tanya wanita sepuh bernama Yati itu kepada seorang bocah berseragam sekolah dasar. Tanpa bicara, bocah itu menunjuk salah satu jenis mi instan yang tersedia di depannya.

Jarak pintu utama sekolah dan lapak jualan Yati hanya terpaut  tiga meter. Kecuali pagi, jam istirahat dan pulang sekolah, gang beraspal itu tampak sepi.

Saban pagi, suami Yati berangkat ke pasar untuk belanja mi instan. Suami Yati telah menyandang status pensiunan pabrik swasta sejak sepuluh tahun silam.

Pada pukul enam pagi atau sejam sebelum bel sekolah berbunyi, Ibu lima anak itu telah siap dengan dagangannya. Selain mi instan, ada juga cabai, minuman kemasan, sumpit, dan kantong plastik berisi uang receh.

Dengan modal 2.300 rupiah per kemasan, Yati menjualnya 4.000 rupiah setelah ia olah sesuai selera pembeli. Meski mi instan dapat dibuat dengan mudah oleh banyak orang, Yati mengaku mi olahannya berbeda dengan yang lain.

Suatu hari, seorang anak sekolah yang telah pulang ke rumahnya kembali lagi sekolah. Ia kembali hanya untuk membeli mi Yati padahal orang tua sang anak telah membuatkan mi di rumahnya.

“Ia maunya mi buatan Bude,” kisahnya. Yati akrab disapa bude oleh anak sekolahan dan warga sekitar.

Tak heran jika ada saja pembeli yang memberikannya duit 5.000 rupiah tanpa menginginkan uang kembalian dari Yati.  “Alhamudilillah, sehari bisa habis satu setengah dus,” katanya dengan wajah semringah. Satu dus berisi empat puluh kemasan mi instan.   

Yati mulai berhenti dagang ketika ketika matahari mulai condong ke barat. “Capek, ingin istirahat,” ujarnya.

Yati menegaskan bahwa dirinya masih sehat dan bugar. Apalagi, ia telah melakukan aktivitas ini sejak tahun 1968. “Sejak sekolah ini belum dibangun,” katanya. 

Yati sempat berhenti berjualan karena kesibukan mengurus anak-anaknya. Setelah anak-anaknya berkeluarga dan memiliki gawai masing-masing, ia melanjutkan berjualan.

Meski telah berhasil membesarkan anak-anaknya, Yati tetap ingin berdagang. Di usianya yang senja, ia masih menyimpan harapan yang belum kunjung terwujud. “Saya pengen umrah dan naik haji,” katanya. 

Jatinegara, 21 November 2019

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *