WAJAH Teuku Wisnu, 33 tahun, semringah selepas merampungkan syuting di sebuah restoran kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Ahad siang 16 Desember 2018. Tim kamerawan pun terlihat lega setelah hampir dua jam mengambil gambar untuk sebuah program religi di stasiun televisi swasta. Penerima Panasonic Award 2009 sebagai aktor terfavorit itu kemudian menyalami kru produksi satu demi satu. Teuku juga menyempatkan diri menerima permintaan swafoto secara bergiliran dari para pelayan restoran setempat.
“Walaupun saat ini saya berjenggot, tawaran bermain di sinetron masih ada,” kata Teuku ketika ditemui penulis di lokasi syuting. “Hanya, saat ini saya diberi peran berbeda.”
Pemeran Farrel dalam sinetron Cinta Fitri itu adalah satu dari sederet selebritas yang meramaikan Hijrah Fest 2018 pada 9-11 November. Dalam tiga hari, Hijrah Fest sukses memikat lebih daripada 20.000-an pengunjung dengan tiket masuk Rp 80.000 per orang per hari.
“Hijrah” menjadi fenomena semarak belakangan ini, terutama di kalangan menengah muda muslim perkotaan. Ia bahkan telah menjadi gaya hidup, mulai dari penampilan fisik, mode busana, sapaan khas, hingga kuliner. Di Hijrah Fest, misalnya, ditampilkan mulai dari ceramah keagamaan, kisah motivasi, sampai merek dagang “muslim”.
Wisnu sendiri memutuskan berhijrah tak lama setelah menikahi Shireen Sungkar, pasangan mainnya dalam Cinta Fitri, pada November 2013. Layaknya penampilan fisik pria berhijrah lainnya, wajahnya kini dihiasi jenggot lebat. Finalis MTV VJ Hunt 2006 ini juga kerap tampil dengan mengenakan gamis. Ia kini lebih banyak bekerja untuk program-program keagaamaan, baik on air maupun off air, selain menekuni bisnis kuliner di Malang, Jawa Timur.
“Sederhananya, hijrah itu bagaimana kita, yang dulunya bandel dan berbuat maksiat, sekarang tidak ingin berbuat itu lagi,” ujar pria asal Aceh itu. Orang yang berhijrah, kata Wisnu, ingin memperdalam ajaran Islam sehingga dipandang terbaik di sisi Tuhan.
Setelah berhijrah, Wisnu mengaku menyesali banyak hal di masa lalunya. Dia bilang, ada aturan agama yang seharusnya wajib dilakukan tapi ia langgar. “Alhamdulillah sekarang sudah tahu mana yang benar dan salah dalam agama.”
Selain Wisnu, artis, model, sekaligus penyanyi Dewi Sandra juga memutuskan berhijrah sejak 2013. Pelantun lagu “Yang Penting Asyik” ini juga menyesali masa silamnya, yang menurut dia jauh dari ajaran agama. Sebagai muslim, ia merasa dulu begitu mudah menyampingkan kewajiban agama.
“Dulu saya kan tidak tahu ilmu agama,” kata peraih penghargaan FHM Sexiest Female Artist 2004 ini kepada penulis via telepon. “Jadi saya bablasin aja semuanya.
Dulu, misalnya, ia begitu mudah menunda atau bahkan meninggalkan salat. Ia kini menyadari kewajibannya itu akan dipertanyakan oleh para malaikat di liang lahad kelak.
Dewi juga merasa bersyukur karena menikah dengan Agus Rahman pada 2011. Lewat Aguslah, ia mendapatkan banyak pelajaran agama. “Guru terdekat saya ya Mas Agus,” ujar perempuan kelahiran Rio de Janeiro, Brasil, 38 tahun lalu ini. Dua tahun setelah mengarungi bahtera rumah tangga bersama Agus, Dewi memutuskan berhijab.
Saat ini, Dewi enggan menghabiskan waktu di dunia hiburan. Ia ingin menabung lebih banyak bekal untuk kehidupan akhirat yang ia yakini sebagai kehidupan yang abadi.
“Kemarin saya sudah menjalani pengalaman duniawi, saya tahu lika-likunya,” katanya. “Yang saya tidak tahu kan kehidupan di akhirat. Kita tidak tahu siksaan di akhirat itu sesakit apa. Kalau kita tidak berusaha menyelamatkan diri, kira-kira mampu enggak kita melewati (siksaan) itu. Inilah yang saya takuti.”
Tak hanya berubah dari sisi pakaian, perempuan belasteran Inggris ini juga terdengar fasih mengucapkan ungkapan dalam bahasa Arab seperti masya Allah, jazakallah, dan barakallah. “Itu sangat standar dan sering dipakai dalam komunitas,” ujar Dewi. Karena awalnya tidak paham, ia pun berusaha belajar kepada teman-temannya. “Itu artinya apa sih, terus jawabannya bagaimana,” katanya.
Baik Wisnu maupun Dewi — dan sejumlah selebritas lain yang menyebut diri mereka “skuat hijrah” — berbagi ustaz atau penceramah agama yang sama. Saat Hijrah Fest, nama-nama seperti Bachtiar Nasir, Abdullah Gymnastiar, Abdul Somad, Adi Hidayat, Hanan Attaki, Felix Siauw, Salim Fillah, Oemar Mita, Fatih Karim, dan Abu Fida tampil menjadi panutan mereka.
Wisnu menuturkan, mereka rutin menggelar kajian agama dari rumah ke rumah. Mereka menamakan pengajian ini “Kajian Musyawarah”, kependekan dari “muda, sakinah, mawadah wa rahmah”.
“Teman-teman artis kan biasanya bingung mau cari tempat kajian, karena itu (kajian) kami fokus kepada artis,” katanya. “Dengan demikian, mereka yang ingin ikut Musyawarah tidak perlu sungkan karena toh di sana mereka bertemu dengan sesama artis.”
Dari pengajian artis inilah, muncul inisiatif untuk menggelar kegiatan lebih besar, yang dapat diakses masyarakat luas. Eks pembawa acara musik di MTV, Arie Untung, pun menggagas Hijrah Fest di Jakarta Convention Center. Kesuksesan acara ini memicu agenda serupa di berbagai daerah, seperti Ummat Festival di Makassar, Sulawesi Selatan, pada akhir tahun ini dan Islamic Festival di Palembang, Sumatera Selatan, pada awal 2019. “Alhamdulillah, sebagai seorang muslim, saya senang acara ini menjalar ke daerah lain,” ungkap Wisnu.
Anggota “skuat hijrah”, Dude Harlino, mengatakan daya tarik Hijrah Fest tak lepas dari peran selebritas yang terlibat di dalamnya. Apalagi, ceramah para ustaz tersebut di media sosial memang sudah memikat anak-anak muda. “Cuplikan-cuplikan ceramah ustaz kami sangat mudah diakses, baik di You Tube ataupun di Instagram,” kata pria yang pernah menjadi bintang sinetron dengan bayaran termahal di Indonesia. “Kemasannya juga cukup menarik, gampang dicerna, menggunakan bahasa anak muda dan berbobot.”
Di mata Dude, anak muda zaman sekarang tidak menyukai hal rumit dan berat. Karena itu, ia menggunakan bahasa anak muda ketika ingin mengajak teman-temannya berhijrah. “Saya bilang, yuk kita kumpul, kita ngobrol, tapi ada ustaznya,” ujarnya. “Jadi kami bikin suasana menjadi nyaman.”
Bagi Dude, setiap orang, tak terkecuali artis, pasti mempunyai masalah. Karena itu, mereka membutuhkan wadah untuk mencurahkan isi hati. “Tapi ketimbang curhat yang tidak berujung jalan keluar, mending kami panggil ustaz,” katanya.
Walaupun sebagian besar mereka kini sibuk dengan kegiatan keagamaan, selebritas hijrah tidak diminta keluar dari industri hiburan. Ustaz justru mendorong mereka tetap terlibat sebagai pesinetron atau pembawa acara di televisi selama itu membantu dakwah. “Jika maslahatnya lebih besar, tawaran itu saya ambil,” kata Wisnu yang menjadi pembawa acara tetap di salah satu program bincang-bincang agama di stasiun televisi swasta.
Selain di industri hiburan, selebritas hijrah memiliki kesibukan bisnis. Wisnu, misalnya, memiliki bisnis pakaian syar’i dengan merek dagang “Gerai Hawa”. Dewi pun demikian dengan label “Doa Indonesia”. Sementara, Dude menekuni bisnis kue oleh-oleh Yogyakarta. “Kami kan ingin mencari nafkah yang halal,” kata Dude.
Namun, fenomena hijrah kadang menimbulkan ketegangan, terutama di media sosial. Ini terkait dengan pemahaman ajaran agama yang dinilai konservatif oleh sebagian kalangan.
Wisnu, misalnya, pernah dirisak di media sosial gara-gara sebuah pernyataan kontroversial di televisi. Dia menyatakan bahwa membacakan Surah Al-Fatihah untuk orang yang telah meninggal sebagai perbuatan yang tak diajarkan Nabi Muhammad atau bid’ah, padahal praktik itu sudah lama dilakukan masyarakat muslim dan dianjurkan para ulama.
Arie Untung belum lama ini juga mengundang kontroversi di media sosial. Dia menyebut “aksi 812” di Malaysia sebagai “The Power of Ukhuwah”. “Aksi 812” sendiri adalah unjuk rasa kelompok oposisi Malaysia pada 8 Desember 2018 untuk menentang ratifikasi Konvensi Internasional tentang Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi Rasial atau ICERD. Bagi pengkritik Arie, Konvensi justru sesuai dengan ajaran Islam yang tak mengenal pembedaan manusia berdasarkan ras.
Dude Herlino menyatakan, dia tak mau membicarakan hal sensitif. Dia bilang akan tetap merujuk langsung kepada para ustaznya jika menemukan masalah yang belum jelas hukumnya dalam Islam. Ketika ditanya, bagaimana sikapnya terhadap muslim dari aliran yang berbeda, Dude kembali menyatakan, dia akan bersandar sepenuhnya kepada keputusan Majelis Ulama Indonesia. “Karena mereka yang ada di MUI telah mengeluarkan fatwa terkait hal-hal tersebut,” katanya.
Dude menyatakan, apa pun aliran dan agama yang ada di Indonesia, kerukunan harus tetap terjaga. “Rasulullah telah mencontohkan kerukunan antaragama dengan Piagam Madinah,” katanya. Karena itu, dia menolak aksi teror yang terjadi dikaitkan dengan ajaran Islam. “Ustaz kami sudah mengatakan itu bukan ajaran Islam.”
Menanggapi pertanyaan serupa, Dewi mengatakan, dia hanya akan merujuk kepada Al-Quran dan hadis Nabi dalam menyikapi keragaman pemahaman ajaran Islam. Bagi Dewi, seseorang tetap muslim jika dia memiliki dalil yang bersumber dari Al-Quran dan hadis. “Kalau memang ada dalilnya, ya berarti itu Islam yang saya ikuti juga,” katanya. “Jadi saya tidak melihat kelompoknya atau orangnya, tapi saya melihat sumbernya.”
Born Again dan Semangat Zaman
Mencermati fenomena hijrah, cendekiawan muslim Haidar Bagir mengatakan, semangat berhijrah itu mulia, apalagi gagasan ini bersumber dari Al-Quran. Dia bilang, siapa pun yang berpindah dari akhlak buruk ke akhlak baik adalah orang-orang mulia menurut ajaran Islam.
Haidar tidak melihat fenomena tersebut sebagai hal baru di Tanah Air. Fenomena seperti itu telah terasa sejak 1980-an walaupun pada masa itu belum disebut dengan istilah “hijrah”. Bahkan sejak pertengahan 1970-an, kata Haidar mengutip pandangan Nurcholis Madjid, kebangkitan kelas menengah baru muslim telah terjadi. Ini berawal dari para santri yang mulai mendapatkan akses pendidikan modern pada awal 1950-an.
Pada pertengahan 1970-an, mereka lalu memasuki dunia kerja dan bisnis. Banyak di antara mereka yang sukses. “Inilah yang disebut kelas menengah baru yang terdiri dari pelajar muslim atau santri,” kata pendiri Kelompok Mizan ini kepada penulis, Selasa 18 Desember.
Salah satu gejala kebangkitan semangat keberagamaan pada masa itu tampak di Masjid Salman, yang terletak di seberang kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), tempat Haidar menempuh studi sarjana. Fenomena ini lalu menarik perhatian mahasiswa lain yang awalnya tidak serius belajar agama. “Perkembangan ini juga ditandai dengan perempuan yang mulai berjilbab sejak pertengahan 1970-an,” katanya. “Perkembangan ini terus berlangsung hingga menembus kalangan selebritas pada 1980-an.”
Namun, berbeda dengan fenomena 1980-an, Haidar melihat fenomena hijrah saat ini tampak mengkristal dan begitu kentara. Hal ini, menurut Haidar, terjadi karena semangat keberagamaan bertemu dengan keinginan untuk mengentalkan identitas dalam berhadapan dengan kelompok yang berbeda. Sementara, fenomena hijrah pada 1980-an lebih banyak didorong oleh semangat keberagamaan.
Pengentalan identitas yang menguat belakangan ini, Haidar bilang, terjadi di semua negara dan agama. Di Amerika Serikat, misalnya, pengentalan identitas ditandai dengan kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden 2016. “Di sana, ada upaya mengentalkan identitas, Amerika berhadapan dengan non-Amerika,” kata pemikir yang didaulat sebagai salah satu dari “500 Tokoh Muslim Berpengaruh” versi The Royal Islamic Strategic Studies Center, Amman, Yordania.
Hal serupa terjadi di daratan Eropa, yang ditandai dengan keinginan Inggris hengkang dari Uni Eropa atau “Brexit”. Di India, menurut Haidar, terpilihnya Narendra Modi sebagai perdana menteri juga gejala dari pengentalan identitas. “Itu semua gejala pengokohan identitas yang terkadang mencapai tingkat ekstrem, sehingga terjadi fobia kepada kelompok lain,” katanya.
Dalam masyarakat Kristiani, fenomena perubahan sikap menjadi “lebih saleh” sudah lama terjadi dan dikenal dengan istilah “born again“. Haidar mengatakan, orang-orang yang mengalami “born again” juga terkadang melampaui batas. Dalam masyarakat muslim, mereka terkadang menilai orang-orang yang berada di tengah (moderat) dalam beragama sebagai muslim yang “tidak kaffah“.
“Bandulnya berayun terlalu keras ke sisi lain. Ia berayun dari satu ekstrem ke ekstrem lain,” kata peraih doktor di bidang filsafat dari Universitas Indonesia dan Indiana University Bloomington, Amerika Serikat, itu.
Haidar menjelaskan, fenomena pengentalan identitas kemungkinan dipicu oleh ketidakberdayaan mereka dalam berhadapan dengan dahsyatnya kemajuan ekonomi, sains, dan tekonologi. Sedemikian dahsyatnya kemajuan itu, manusia justru kehilangan kontrol terhadap apa yang mereka ciptakan sendiri. Teknologi, yang seharusnya menjadi alat menyejahterakan manusia, justru mendominasi kehidupan mereka.
“Televisi, internet, dan gadget menjadi pengontrol kehidupan kita,” kata Haidar. “Banyak hal sekarang ini bukan lagi menjadi alat pembantu tapi menjadi penindas.”
Di sisi lain, globalisasi dengan keterbukaan informasi menyebabkan pengaruh yang datang dari luar dapat menebus setiap bilik kamar seseorang. Akhirnya, muncul kekhwatiran bahwa hal-hal baik akan tergerus akibat pengaruh tersebut. Salah satu contohnya, orang tua yang khawatir anaknya meninggalkan agama akibat pengaruh asing. “Ketakutan dan ketidakberdayaan seperti ini dialami oleh setiap manusia di belahan bumi mana pun,” katanya. “Inilah yang saya sebut sebagai semangat zaman.”
Perasaan menjadi korban dominasi teknologi akhirnya memicu seseorang untuk membangun benteng di sepanjang identitas mereka. Di Barat, misalnya, mereka membangun benteng itu dengan kebijakan anti-imigran. Di Indonesia, ada perasaan warga pribumi mayoritas muslim menjadi korban dominasi ekonomi oleh segelintir “non-pribumi”. “Kebetulan warga non-pribumi umumnya non-muslim,” ujarnya.
Upaya membangun benteng itu semakin lama semakin kuat. Sementara itu, salah satu alat yang mudah digunakan untuk mengentalkan identitas di Indonesia adalah agama.
Karena itu, Haidar berharap pengentalan identitas tidak menjadikan semangat hijrah semakin jauh dari tujuan ajaran Islam. Menurutnya dengan mengutip hadis Nabi, puncak ajaran Islam adalah penyempurnaan akhlak dan penebaran kasih sayang kepada seluruh alam. “Jadi, hijrah seharusnya tidak membawa seseorang bersikap eksklusif, apalagi menjadikannya membenci mereka yang berbeda.”[](Edy Y Syarif)
Artikel ini pertama kali terbit di Indopress.id, 28 Desember 2018, dan diterbitkan lagi di blog ini dengan sejumlah perubahan naskah.
Editor: Irman Abdurrahman, Edy Y.S
Foto: mizan.com
Leave a Reply