Santa Maria Bintang Laut

Paus Fransiskus punya harapan: gereja harus menjadi suara masyarakat miskin. Di Warakas, sebuah kapel menjadi simbol toleransi warga yang terpinggirkan.

SALOMON Tety, 72 tahun, sibuk mondar-mandir antara rumahnya dan sebuah kapel yang berjarak enam ratus meter di Kelurahan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Ahad 24 Desember. Jarak itu ia tempuh dengan berjalan kaki di siang bolong menelusuri lorong demi lorong yang mengurai padatnya permukiman warga setempat.

Jelang sore, Salomon kembali menyambangi Kapel Santa Maria Bintang Laut. Ia ingin memastikan terpasangnya pengeras suara tambahan yang dipersiapkan untuk misa Malam Natal.

“Kapel Bintang Laut hanya mampu menampung enam ratus orang,” kata, Salomon, Ketua Kapel itu, ketika menerima penulis. Disebut ‘kapel’ karena bangunan 52 tahun itu tergolong gereja kecil dan berada di bawah otoritas Paroki Fransiskus Xaverius Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Menurut Salomon, jumlah jemaat Kapel secara keseluruhan mencapai 1.300 orang. Seperti umumnya warga Warakas, kebanyakan jemaat Kapel tergolong masyarakat berpenghasilan rendah.

“Mayoritas kepala keluarga di sekitar rumah saya pekerja serabutan,” kata Salomon yang juga bendahara Rukun Tetangga (RT). “Sekarang ini, orang sulit mencari pekerjaan.”

Sebagai Ketua Kapel, Salomon sempat menginisiasi iuran untuk membantu jemaatnya yang membutuhkan bantuan dana. Namun, inisiasi Salomon itu tak direstui Paroki.

Ia mengaku tak memahami alasan Paroki menganulir inisiatifnya itu. Namun, ia menyadari, segelintir jemaat Kapel yang tergolong kaya tidak suka dengan cara itu. “Mungkin, membantu jemaat dianggap bukan urusan saya tapi urusan Gereja,” kata pria kelahiran Nusa Tenggara Timur itu.

Meski demikian, semangat membantu orang lain tak pernah padam di dada Salomon. Setiap menjelang Natal, misalnya, kakek tiga cucu itu berupaya memberi sembako kepada lima keluarga di sekitar rumahnya, yang ia anggap benar-benar membutuhkan bantuan.

Kediaman Salomon sendiri tersembunyi di balik rumah-rumah yang mengepungnya secara acak. Perjalanan menuju rumahnya harus ditempuh dengan menelusuri gang yang berliku.

Salah satu gang yang lebarnya satu meter tak lagi beratapkan langit biru. Hanya beberapa jengkal dari atas kepala orang dewasa, terhampar deretan papan yang dirapatkan dan disangga beberapa kayu.

Di atas susunan papan lawas itulah, tetangga Salomon juga bermukim. “Di wilayah ini, saya non-Muslim seorang diri,” katanya.

Meskipun demikian, Salomon tetap hidup rukun dengan tetangganya. Warga setempat bahkan sempat meminta Salomon menjadi ketua RT. Sadar sebagai minoritas, Salomon menolak tawaran itu. “Tak menjadi ketua RT pun saya tetap siap membantu warga,” ujar mantan Sekretaris RT 14 itu.

Tinggal di ujung gang buntu, ayah empat anak ini hidup bersahaja sebagaimana warga sekitarnya. Sebagai mantan karyawan universitas swasta, ia tak lagi mendapat pensiun sejak enam tahun lalu.

Dari empat anaknya, dua di antaranya telah bekerja. Salah satunya rutin membantu kebutuhannya sehari-hari. “Dia biasanya transfer 1,5 sampai 2 juta rupiah per bulan,” katanya merujuk kepada putrinya yang bekerja di sebuah hotel. Uang dari putrinya itu jauh lebih tinggi daripada honor yang ia peroleh per tiga bulan sebagai bendahara RT.

Menariknya, putri pertama Salomon seorang Muslimah. Bagi Salomon, anak hanyalah titipan Tuhan. Sebagai ayah, ia bertanggung jawab mendidik dan membesarkan anak hingga dewasa. “Adapun masa depannya, termasuk pilihan keyakinan, saya serahkan kepada anak saya masing-masing,” ujar pria yang istrinya telah lama wafat itu.

Kepedulian Natal

Prosesi misa Malam Natal dimulai beberapa saat setelah jemaah Masjid Babul Ibad selesai menunai salat Isya. Masjid itu sendiri berdiri tepat di seberang Kapel Santa Maria Bintang Laut.

Begitu salat selesai, sebagian jemaah segera membantu merapikan parkir motor jemaat Kapel. Menurut Salomon, urusan parkir diserahkan kepada pemuda masyarakat setempat. “Termasuk uang parkir, kami berikan kepada mereka semua,” katanya.

Malam itu, satu demi satu umat Katolik Warakas datang bersama keluarganya. Sebagian datang dengan motor, sebagian lagi dengan berjalan kaki atau menggunakan becak.

Segera setalah acara dimulai, seluruh lampu gereja dipadamkan. Sebagai gantinya, lilin yang telah berada dalam genggaman tiap-tiap jemaat dinyalakan untuk menyambut prosesi misa yang berlangsung selama dua jam.

“Natal bukan soal pakaian baru atau makanan, tapi Natal adalah kepedulian,” kata Romo Antonius Wiwit Subagyo dari Paroki Fransiskus Xaverius yang berkhotbah di atas panggung berlatar patung Yesus. “Dengan Natal, kita diajarkan untuk meningkatkan kepedulian kepada sesama manusia.”

Sabda demi sabda disampaikan, nyanyian demi nyanyian rohani disenandungkan, munajat demi munajat dipanjatkan bersama. Selain mendoakan anak-anaknya, di dalam gereja berukuran 17 x 20 meter itu, Salomon tak lupa memanjatkan doa untuk warga Warakas. “Kalau Tuhan berkenan, saya ingin membahagiakan masyarakat di sekitar saya,” katanya.

Selesai misa, wajah Salomon tampak semringah. Acara yang ia persiapkan sedari pagi bersama segelintir panitia berlangsung khidmat tanpa hambatan. Selamat Natal Pak Salomon![](Edy Y Syarif)

Pertama kali terbit di Indopress.id pada 25 Desember 2017

Photo: Wikipedia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *